Wednesday, September 06, 2006

artikel

Rokok "Nguras Kantong"

Buat yang seneng ngeroko tapi suka ngeluh ‘ga punya duit, baiknya mikir-mikir lagi deh kalo mau terus ngeroko. Soalnya berdasarkan survei kecil-kecilan atas beberapa perokok, uang jajan sering habis oleh rokok.
Hitung saja jika setiap harinya menghabiskan 4 batang rokok, uang minimal 2400 rupiah melayang sudah. Tentu tidak masalah bagi perokok bermodal tebal dan perokok jenis C yang seringnya minta rokok sana-sini. Untuk anak kost macam mahasiswa, khususnya yang uang bulanannya sekitar 500-600 ribu, uang dua atau tiga ribu tergolong besar. Jika dikalikan satu bulan, biaya untuk rokok Rp 90.000, itu jika meroko 4-5 batang yang harganya 600 perak sebatang. Padahal uang 90 ribu bisa dialihkan untuk beli baju, buku, jalan-jalan, beli TV atau HP (kalo dikumpulin).
Pengeluaran lebih besar buat rokok yang harganya 700 rupiah ke atas. Juga buat peroko yang ‘ga cukup empat atau lima batang sehari. Hitung saja pengeluaran bulanan untuk rokok yang sekaligus memperburuk kondisi kesehatan. Beberapa mahasiswa menghabiskan sekitar Rp 15.000 untuk makan dan rokok selama satu hari, itu jika ia hanya kuliah di kostan. Belum lagi saat mahasiswa itu nongkrong bareng, tentu rokok yang dihisap tak terasa bertambah. Lumayan kalo rokoknya dapet minta, lah kalau malah diminta? Pasti biaya rokok hari itu bertambah juga.
Rokok adalah candu. Rokok sudah diakui olah para peroko pun sesuatu yang mubajir, membakar uang, menyebar penyakit dan gangguan tak hanya pada diri sendiri, juga pada orang lain. Kendala berhenti merokok kata yang demen rokok, pertama adalah rasa asam yang datang kala absen ‘ngerokok. Jadinya mulut gatal gitu... Kendala semacam ini bisa diatasi, misalnya mengganti rokok dengan permen menthol. Tapi yang penting sih niat dan kesadaran penuh akan bahaya rokok. Bahaya untuk kesehatan, keuangan, juga penampilan khususnya gigi dan bibir.
Kendala lain yaitu rasa konsentrasi saat merokok lebih tinggi, juga katanya dengan merokok, peroko lebih produktif (ini dikatakan oleh beberapa mahasiswa yang doyan ‘ngerokok sekaligus doyan diskusi). Wah bisa jadi itu hanya sugesti. Sebab bagaimanapun juga jika merokok sudah menjadi kebiasaan, saat kebiasaan itu dihilangkan/ dihindari beberapa hal akan terpengaruh. Ambil contoh seseorang yang sudah terbiasa makan pedas, saat rasa pedas dikurangi atau bahkan dihilangkan, makanan akan terasa tidak enak dan nafsu makan menurun. Sama halnya dengan rokok.
Mengurangi jatah hisapan rokok pun bisa dimulai dengan meningkatkan kepedulian pada sesama manusia. Tidak bisa dipungkiri, orang lain akan tergangu dengan asap dan bau rokok yang dibakar. Karena itu, sebisanya perokok menghindari tempat umum saat merokok. Dengan menanamkan pikiran bahwa orang sekitar asap rokok lebih rentan terkena dampak negatif rokok, perokok secara langsung maupun tidak telah menyebarkan kerugian bagi orang lain. Karena itu sadarlah untuk tidak membuat orang lain terganggu dan rugi. Padahal bisa saja perokok tetap enjoy merokok di tempat umum, caranya dengan menyiapkan katong plastik atau botol air mineral yang di dalamnya diisi kapas basah. Nah saat mau melepas asap ke udara, lepaslah di dalam botol/ katong saja. Solusi untuk asap ini memang sedikit ‘nyeleneh. Tapi biar orang yang disekitar tidak terganggu, dan sama-sama enak, sah-sah saja kan?
Ada yang bilang kematian tidak disebabkan oleh rokok, namun takdir Yang Maha Kuasa. Bukankah kita sebagai manusia bisa berusaha? Mendekatkan atau menjauhkan diri dari segala sesuatu. Kita pun mungkin bisa memilih cara mati. Misalnya dengan tidak merokok, kita tidak mungkin mati karena asap rokok yang sengaja kita hisap. Lebih bijak juga jika kita melakukan sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. Salah satunya dengan tidak merokok. Sebelum anda berhenti merokok, agar lebih mudah, kurangi intensitas merokok anda. Semoga berhasil....

artikel

Rokok "Nguras Kantong"

Buat yang seneng ngeroko tapi suka ngeluh ‘ga punya duit, baiknya mikir-mikir lagi deh kalo mau terus ngeroko. Soalnya berdasarkan survei kecil-kecilan atas beberapa perokok, uang jajan sering habis oleh rokok.
Hitung saja jika setiap harinya menghabiskan 4 batang rokok, uang minimal 2400 rupiah melayang sudah. Tentu tidak masalah bagi perokok bermodal tebal dan perokok jenis C yang seringnya minta rokok sana-sini. Untuk anak kost macam mahasiswa, khususnya yang uang bulanannya sekitar 500-600 ribu, uang dua atau tiga ribu tergolong besar. Jika dikalikan satu bulan, biaya untuk rokok Rp 90.000, itu jika meroko 4-5 batang yang harganya 600 perak sebatang. Padahal uang 90 ribu bisa dialihkan untuk beli baju, buku, jalan-jalan, beli TV atau HP (kalo dikumpulin).
Pengeluaran lebih besar buat rokok yang harganya 700 rupiah ke atas. Juga buat peroko yang ‘ga cukup empat atau lima batang sehari. Hitung saja pengeluaran bulanan untuk rokok yang sekaligus memperburuk kondisi kesehatan. Beberapa mahasiswa menghabiskan sekitar Rp 15.000 untuk makan dan rokok selama satu hari, itu jika ia hanya kuliah di kostan. Belum lagi saat mahasiswa itu nongkrong bareng, tentu rokok yang dihisap tak terasa bertambah. Lumayan kalo rokoknya dapet minta, lah kalau malah diminta? Pasti biaya rokok hari itu bertambah juga.
Rokok adalah candu. Rokok sudah diakui olah para peroko pun sesuatu yang mubajir, membakar uang, menyebar penyakit dan gangguan tak hanya pada diri sendiri, juga pada orang lain. Kendala berhenti merokok kata yang demen rokok, pertama adalah rasa asam yang datang kala absen ‘ngerokok. Jadinya mulut gatal gitu... Kendala semacam ini bisa diatasi, misalnya mengganti rokok dengan permen menthol. Tapi yang penting sih niat dan kesadaran penuh akan bahaya rokok. Bahaya untuk kesehatan, keuangan, juga penampilan khususnya gigi dan bibir.
Kendala lain yaitu rasa konsentrasi saat merokok lebih tinggi, juga katanya dengan merokok, peroko lebih produktif (ini dikatakan oleh beberapa mahasiswa yang doyan ‘ngerokok sekaligus doyan diskusi). Wah bisa jadi itu hanya sugesti. Sebab bagaimanapun juga jika merokok sudah menjadi kebiasaan, saat kebiasaan itu dihilangkan/ dihindari beberapa hal akan terpengaruh. Ambil contoh seseorang yang sudah terbiasa makan pedas, saat rasa pedas dikurangi atau bahkan dihilangkan, makanan akan terasa tidak enak dan nafsu makan menurun. Sama halnya dengan rokok.
Mengurangi jatah hisapan rokok pun bisa dimulai dengan meningkatkan kepedulian pada sesama manusia. Tidak bisa dipungkiri, orang lain akan tergangu dengan asap dan bau rokok yang dibakar. Karena itu, sebisanya perokok menghindari tempat umum saat merokok. Dengan menanamkan pikiran bahwa orang sekitar asap rokok lebih rentan terkena dampak negatif rokok, perokok secara langsung maupun tidak telah menyebarkan kerugian bagi orang lain. Karena itu sadarlah untuk tidak membuat orang lain terganggu dan rugi. Padahal bisa saja perokok tetap enjoy merokok di tempat umum, caranya dengan menyiapkan katong plastik atau botol air mineral yang di dalamnya diisi kapas basah. Nah saat mau melepas asap ke udara, lepaslah di dalam botol/ katong saja. Solusi untuk asap ini memang sedikit ‘nyeleneh. Tapi biar orang yang disekitar tidak terganggu, dan sama-sama enak, sah-sah saja kan?
Ada yang bilang kematian tidak disebabkan oleh rokok, namun takdir Yang Maha Kuasa. Bukankah kita sebagai manusia bisa berusaha? Mendekatkan atau menjauhkan diri dari segala sesuatu. Kita pun mungkin bisa memilih cara mati. Misalnya dengan tidak merokok, kita tidak mungkin mati karena asap rokok yang sengaja kita hisap. Lebih bijak juga jika kita melakukan sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. Salah satunya dengan tidak merokok. Sebelum anda berhenti merokok, agar lebih mudah, kurangi intensitas merokok anda. Semoga berhasil....

Friday, July 28, 2006

Kemerdekaan Simbolis Indonesia

Indonesia belum merdeka!!!
Kita masih terjajah
Oleh kemiskinan
Oleh kebodohan
Oleh neo liberalism
Oleh kapitalisasi
Oleh saudara yang menikam kita sendiri
Suharto …

Aktivis Butuh Dispensasi

Inti dari sekolah baik SD, SMP, SMU, SMK, Universitas, dan lembaga pendidikan lainnya adalah mendapat ilmu, pengetahuan, dan pengalaman. Secara teoritis, ilmu bisa didapat di ruang-ruang kelas. Namun untuk pengetahuan dan pengalaman, kita harus terjun langsung dalam dunia nyata, alias praktek. Artinya, pegetahuan dan pengalaman tidak didapat di kelas-kelas institusi pendidikan yang kian mahal saat ini. Terkecuali jika kita sekolah/ kuliah hanya untuk mendapat gelar, kita bisa dengan hanya masuk dalam ruang kelas, bersitatap dengan dosen.
Organisasi kemahasiswaan yang melahirkan kegiatan kemahasiswaan merupakan sebuah tempat bagi mahasisiwa yang menginginkan tidak sekedar ilmu/ teori. Organisasi kemahasisiwaan menyuguhkan pengetahuan dan pengalaman. “Namun sayang hanya dinikmati oleh kurang lebih lima persen mahasiswa (mahasiswa FISIP Unpas-Red),” ujar Resa, presiden BPPM FISIP Unpas.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa berupa diskusi seputar kampus, permasalahan bangsa dan negara, seminar, lomba, dan lain sebagainya menjadi wadah apresiasi mahasiswa. Kegiatan ini dapat menunjang dan membentuk mahasiswa menjadi yang sebenar-benarnya mahasiswa. ‘Pemuda-pemudi harapan bangsa’ yang tidak memikirkan perutnya sendiri dengan mengangkat permasalahan/ fenomena yang terjadi sebagai bahan diskusi dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Alasan organisasi mahasiswa kurang diminati adalah cengkraman daftar kehadiran yang kuat dari tiap-tiap dosen. Daftar kehadiran tidak hanya mempengaruhi penilaian tapi menentukan penilaian. Karena hal itulah seorang aktivis telah di cap memiliki nilai kurang dari tiga karena jarang hadir dikelas. “IPK (Indeks Prestasi Komulatif-Red) saya kecil tapi gak papalah mumpung masih kuliah bisa aktif di lembaga, “ ujar Resa lagi.
Padahal sebagai pengurus LKM atau HMJ aktivis dituntut peka terhadap fenomena-fenomena sosial, konsentrasi dala tiap diskusi dan rapat, lalu loyal atau total terhadap LKM atau HMJ-nya. “Mahasiswa Fisip harusnya masuk LKM dan HMJ semua…..ah minimalnya 10% dari total seluruh mahasiswanya. Masa anak Fisip anti politik,” Mini, mahasiswa FiSIP Unpas angkatan 2002. Hal senada ditambahkan oleh Candra yan juga mahasiswa FISIP, “mahasiswa FISIP tuh diuntungin kalo ikut LKM ato HMJ, sekalian praktek teorinya yang didapat dari kelas,” tuturnya.
Dalam rapat dan diskusi yang diselenggarakan, aktivis minimalnya harus berkonsentrasi untuk mendengarkan karena akan memalukan jika ia bengong lalu ketinggalan obrolan. “Konsentrasi saat rapat dan diskusi akan terbawa dikelas. Jadi kita ga bengong di kelas tapi juga aktif dan kritis,” tutur seorang alumni FISIP yang juga aktif dalam lembaga kemahasiswaan saat masih jadi mahasiswa.
Hal diatas hanya salah satu kenggulan/ keuntungan menjadi aktivis kampus. Karena hal-hal di ataslah LKM dan HMJ (Juli’05) dalam diskusi ‘Dispensasi Kehadiran bagi Aktivis’ sepakat untuk mendesak pihak dekanat agar memberi rujukan pada jurusan/ tiap dosen agar mahasisiwa yang aktif dalam organisasi kemahasisiwaan diberikan kelonggaran dalam hak kehadiran. Minimalnya surat ijn mengikuti kegiatan benar-benar dianggap. Karena serigkali ijin mengikuti kegiatan walaupun sdah ada suratnya tretap dianggap alpa. “Alpa itu bolos. Padahal kalo ijin kan ga bolos. Wong ngomong! Ada alasan, jadi jangan disamain dong!” ujar Mini berapi-api.
“Kelonggaran disini misalnya mahasisiwa A ikut lembaga B, dan melaksanakan kegiatan C, pada hari senin jam sekian. Maka mahasiswa itu berhak tidak mengikuti kuliah pada hari senin jam sekian ,” jelas Resa. Jadi kelonggaran/ keistimewaan yang dimaksud bukan berarti aktivis lepas dari kegiatan pokoknya alias kuliah. “Lagian apa bedanya kuliah sama diskusi atau Mubes?menurut saya malah bagus Mubes. Kita bisa belajar lebih banyak soal perpolitikan. Praktek langsung men,” ucap Candra menyepakati betapa pentingnya dispensasi kehadiran.

Pro dan kontra
Setiap hak dan kewajiban selalu berpasangan di dunia ini. Begitupun soal dispensasi kehadiran bagi mahasiswa yang aktif di LKM/ HMJ, ada yang setuju ada pula yang tidak. Pihak pro ini di huni oleh para pengurus lembaga. Alasannya sudah jelas, untuk meningkatkan minat mahasiswa terhadap fenomena yang sering terjadi sekaligus menanggulagi masalah masalah yang ada. Selain itu organisasi kemahasiswan mampu membentuk kepribadian dan karakter kepemimpinan mahasiswa tersebut. “Aspek yang dibangun kepribadian dan kepemimpinan. Di kelas emang dapet?” tutur Atip Tartiana, dosen luar biasa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unpas ini tenang.
“Kalau di kelas kan hanya aspek kognitifnya aja yang dibangun. Kalau di kemahasiswan (LKM/ HMJ-Red) afektifnya dan konatifnya,” tambahnya lagi. Menurtutnya, ketiga aspek tersebut harus disinergiskan, caranya dengan aktif dalam lembaga kemahasiswaan. Karena itu, dispensasi merupakan imbalan yang pantas agar mahasiswa lebih bersemangat dalam melaksanakan kegiatan sebagi wujud pengabdian pada masyarakat.
Yang kontra rata-rata dari pihak dekanat dan jurusan. Menurut Aswan Haryadi, selaku PD I, pihak dekanat tidak bisa memberikan rujukan pada dosen maupun jurusan. Menurutnya, aktif di lembaga kemahasiiwaan harus siap mengorbankan waktu, termasuk kuliah. Hal senada pun dilontarkan Awang Munawar. “Gak bisa kita ngasih rujukan,” kata bapak berkumis tebal ini menyepakati.
Namun sebagi seorang dosen yang dulunya juga aktivis, Aswan dan Awang mengaku jika ada mahasiswa yang ijin padanya untuk mengikuti kegiatan seperti diskusi atau acara lain yang masih ada sangkut pautnya dengan mahasiswa/ pengabdian pada masyarakat, mereka akan mengijinkan. Dalam obrolannya denga BPPM, Aswan sangat mendukung kegiatan mahasiswa, ia pun sepakat bahwa apa ya didapat dalam organisasi kemahasiswaan tidak didapat dalam kelas. “Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar itu butuh pengorbanan yang besar juga. Masalah kehadiran, itu sebuah tantangan. Jadi tidak setiap mahasisiwa bisa jadi aktifis,” tuturnya saat ditemui di kantornya.
“Tapi pak, aktivis juga perlu perhatian. Buakn untuk mengeksklusifkan, tapi biar lebih bersemangat gitu. Masak pihak dekanat ama jurusan gak bisa ngasih himbauan, biar saat aktivis ada kegiatan bener-bener diijinin. Jangan disamain sama alpa,” sanggah Mini menanggapi pernyatan aswan tersebut. “Masak sih Cuma ngasih rujukan gitu aja gak bisa?” tambah ya lagi dengan nada kesal.
Menurut Rasman, pihak jurusan tidak dapat memberikan rujukan dispensasi kehadiran untuk bagi aktvis. Namun, jika ada mahasisiwa yang meminta izin untuk mengikuti kegiatan, asal memberitahukan sebelumnya dan disertai surat ketua organisasinya, dosen tidak boleh tidak memberi izin. “Jangan bilang pas hari H-nya. Memakai surat, jangan cuma lisan saja,” ujar bapak ini.


Keuntungan
Adanya jaminan bahwa surat izin tidak sama dengan alpa. Artinya, nilai tidak akan jelek gara-gara ikut kegiatan kemahasiswaan. Dengan begitu, diharapkan aktivis semakin bersemangat dalam membangun daya kritis mahasisiwa, masyarakat, bangsa dan negara.
Selain hal di atas, mahasiswa yang ‘takut’ nilainya jelek sehingga tidak berkecimpung dalam organ kemahasisiwaan akan tertarik dan terjun dalam organisasi kemahasiswaan. Keuntungan lebih jauh jika sebagian besar atau minimalnya 10% mahasisiwa aktif di organ mahasiswaan, perkuliahan akan ramai. “Tidak hanya diam, diam, dan diam. Tapi kritis, kritis, dan kritis,” tutur Ajo, seorang mahaisiwa yang aktif di salah satu lembaga ini bersemangat. “Ada dispensasi, artinya mahasisiwa Fisip akan semakin terlihat sosial dan berpolitiknya. Baguslah itu jangan cuma teori aja, praktek sekalian. Biar tau dalam kenyataannya teori tuh kayak gimana. Jangan cuma baca buku doang! Gak cukup!” tambahnya dengan tegas.
Organ mahasiswa menjadikan yang sebenar-benarnya mahasiswa. “Artinya, mahasiswa gak cuma mikirin diri sendiri tapi juga mikirin orang lain, masalah lain, bikin pemecahan untuk orang lain, termasuk masalah bangsa dan negara,” tambahnya lagi.
“Tapi jangan karena ada kelonggaran terus tiba-tiba masuk LKM/ HMJ. Dispensasi gak hanya penyedap, bukan bumbu utama. Bumbu utamanya menurut saya, keinginanan maju bukan bebas tidak kuliah.

Pengawasan
Keloggaran kehadiran jika nanti disetujui harus ada control dari LKM/ HMJ, PD III, dan dosen yang bersangkutan. Control ini agar tidak timbul suuzan terhadap mahasiswa yang ijin mengkuti kegiatan. Contoh controlling misalnya tiap HMJ atau LKM menyerahkan daftar pengurusnya, jika ada tambahan atau pengurangan pengurus, harus juga dilaporkan pada PD I, PD II, PD III, jurusan , dan tiap dosen yang bersangkutan.
Untuk panitia kegiatan yang terdiri dari non pengurus LKM/HMJ harus dilaporkan juga. Hal ini untuk mencegah mahasiswa yang mengatasnamakan kegiatan untuk bolos kuliah padahal tidak mengikuti kegiatan kemahasiswaan tersebut. Hal yang mudah namun sangat penting yaitu surat izin/ keterangan mengikuti kegiatan yang minimalnya harus ditandatangani ketua umum LKM atau HMJ. Bagusnya lagi jika ada tandatangan PD III. “Jangan bilang pada hari H-nya, pakai surat! Jangan Cuma lisan!” ujar Rasman Sanjaya yang mengaku seringkali mahasiswa yang izin lewat lisan. “Saya kan gak tau siapa aja. Kalo ditanya siapa saja, jawabnya banyak. Takutnya dimanfaatkan oleh mahasiswa yang gak ikut dan tidak bertanggungjawab. Surat kan jelas pertanggungjawabannya, kontrolnya juga gampang!” ujar sekjur, yang ramah ini.
Dalam mengontrol ini pun, KLM dan HMJ dituntut untuk jujur dan objektif. Artinya jika saat kegiatan berlangsung, pengurus atau peserta kegiatan tidak ikut serta padahal minta surat izin, LKM/ HMJ sebagai penanggung jawab harus mencabut surat izin yang diberikan. Caranya dengan mengkonfirmasikan pada dosen yang bersangkutan. Dengan begitu celah-celah pemanfaatan kelonggaran daftar hadir bagi LKM dan HMJ sangat kecil.

Nah sekarang sudah jelas, bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasni kemahasiswaan dapat izin mengikuti kegiatan tanpa khawatir nilainya jelek karena ikut kegiatan kemahasiswaan. Asal kegiatannya jelas, ada surat dari ketua kelembaga/ ketua penyelenggara. Satu hal yang harus diingat, kegiatan yang diikuti dapat dipertanggungjawabkan. Bukan kegiatan fiktif dan benar-benar diikuti. Bagi para aktivis lembaga, sekarang tidak perlu risau kegiatanya akan terhalang tembok kehadiran. Cukup mengkonfirmasikan kegiatan tersebut dan kita leluasa untuk beraktivitas, mengabdikan diri pada masyarakat.
Salam perjuangan!!!
*pernah dimuat dalam Majalah Pasoendan edisi 7

Kelamin Bukan Pembeda

Aku seorang perempuan yang tak mau direndahkan jika hanya karena kelaminku. Laki-laki dan perempuan memang tidak sama. Salah satu perbedaannya adalah kelamin yang menempel di selangkangan dan hormone yang dihasilkannya. Tapi ingat, perbedaan bentuk dan fungsi ganda kelamin tidak bisa diartikan atau jadi tolak ukur untuk merendahkan dan mengesampingkan perempuan.
Perempuan sama dengan laki-laki! Maksud saya, sama kemampuan berfikirnya, sama kekuatan ototnya. Manusia dilahirkan sama, yaitu dari vagina para wanita yang sebelumnya dibuahi pejantan (terkecuali adam dan hawa). Manusia lahir dengan ketidaktahuan dan kelemahan otot yang sama. Jadi tidak ada alasan bahwa laki-laki lebih hebat atau lebih apalah dengan perempuan.
Yang terjadi saat ini bahkan dari jaman dulu kala, perempuan dinilai lebih bodoh dan lemah dibanding laki-laki. Wah… kekeliruan yang mendarah daging sampai sekarang. Saya sering jengkel jika ada yang bilang “ g boleh gitu…” gak boleh gini…” “ kamu kan perempuan” atau “masak perempuan gitu?” Memang kenapa jika saya perempuan? Apa karena saya berkelamin mirip anggrek, saya tidak boleh memanjat pohon? Tidak boleh berkata kasar? Tidak boleh naik gunung? Harus terus bermanis-manis muka, dan bertutur halus! Pertanyaan yang selalu “menghantui” saya dari kecil “kenapa laki-laki boleh manjat pohon, ngomong kasar, naik gunung, berkelahi, ugal-ugalan?” padahal soal tata karma, soal jaga diri, laki-laki pun harus beretika dan jaga diri.
Dengan alasan laki-laki bisa lebih jaga diri, orang tua saya mengekang keinginan saya untuk naik motor, panjat pohon, dan berkelahi. Dan sekarang saat saya sudah berumur 22 tahun dan jadi seorang mahasiswa, saya tetap dibedakan dengan laki-laki karena kelamin saya. Salah satu teman saya pernah berkata “eh jangan gitu, kamu kan cewek!” walah-walah saya jadi ilfil…
Bukankah manusia diciptakan sama? yang berbeda sejak lahir adalah hormon dan kelaminnya. Yang beda antara laki-laki dan perempuan yaitu pembagian tugas atau kemampuannya untuk melahirkan anak dan menanam benih.
Selama ini ada banyak aktifis perempuan yang ingin menyamakan laki-laki dan perempuan (yang sebenarnya berbeda sedikit). Menurut saya yang harus diberi penjelasan adalah perempuan-perempuan. Agar ia tidak mau ditindas. Agar jika saat ia ditindas ia melawan.
Kadang lucu melihat tingkah polah para perempuan, termasuk salah satunya teman saya. Ia sangat bersemangat membicarakan kesetaraan laki-perempuan tapi kerjanya sehari-hari bersolek, berhias diri (tujuannya tidak perlu dipungkiri, untuk memikat pejantan), lalu sibuk memilih baju paling trendi, pakai rok mini, dan shoping. Jika masih banyak perempuan yang lebih peduli pada penampilannyadan dirinya sendiri ketimbang urusan orang/ sosial lain maka sulit menuntut para lelaki lebih menghargai perempuan lalu menyamaratakannya dengan mereka(yang konon lebih memikirkan dunia luar di luar dunianya). Sebelum kita menuntut pihak lain untuk mensejajarkan diri, bukankah lebih baik jika kita menyadarkan diri kita bahwa kita memang pantas untuk disejajarkan?
Saya manusia biasa, seperti manusia lain pada umumnya. Saya dan beberapa teman berkelamin laki-laki saya sering membicarakan bedanya laki-laki dan perempuan. Yang terbaru, kami membicarakan masalah birahi. Wah masalah ini selalu menarik perhatian bukan? Yang dibicarakan adalah siapa yang lebih kuat menahan terjadinya ML. lelaki atau perempuan? Teman saya yang berjengot bilang bahwa harusnya perempuanlah yang sabar menahan agar ML tidak terjadi. Perempuanlah yang pegang kendali untuk masalah ini. pertanyaan saya pun meluncur, karena seolah bahwa jika terjadi ML di luar nikah maka yang salah adalah perempuan karena tidak bisa menahan. Apa salah jika setelah dirayu, dipanasi, dicumbu dengan sedemikian heboh perempuan pun terbakar? Lalu ingin membalas, dan terjadilah ML! Lalu kenapa yang dipojokkan perempuan? Kenapa laki-laki tidak sama berhati-hati dan menahan?
Setelah terjadi ML, kenapa perempuan selalu merasa dirugikan? Padahal saat ML-nya sama-sama menikmati. Sama-sama enak, harusnya sama-sama juga tidak enaknya. Tidak benar juga jika perempuan menyalahkan laki-laki saat terjadi pemerkosaan. Menurut saya wajar jika korban perkosaan pengguna rok mini dan pakaian ngetat, tanpa keuali perempua berkerudung seperti lontong yang lebih menonjolkan buah dada dan pantatnya. Karena pakaiannya atau mungkin tingkahnya itulah pemerkosa tergoda sampai tidak bisa mengendalikan hasratnya.
Masalah pembedaan perempuan dan laki-laki di luar alat kelamin semakin subur dengan adanya sinetron-sinetron yang dengan sangat sadar saya katakan lebih banyak tidak mendidiknya dari pada mendidik. Para artis sinetron telah cukup meningkatkan gairah lelaki, bahkan saya yang perempuan pun gemas ingin menarik rokmini yang dipakai. Lucunya MUI mengkritik inul tapi tidak artis dan aktris pengguna pakaian mini ini. parahnya tabloid kuning yang jelas telah memperlihatkan peningkat hasrat seksual dibiarkan terbit dan dinikmati. Nah di mana campur tangan Badan Sensor Film Indonesia? Jujur, saya sering mual jika ada yang merasa bangga dengan banyaknya warga beragama islam dalam KTP-nya (tapi apakah sudah islami?)
Ah tak terasa saya telah bicara panjang lebar. Semoga tulisan ini bisa dimengerti, semoga saya bisa membuka mata teman-teman baik yang berbelalai maupun yang berkelamin sepeti tulip. Ingat manusia tidak dibedakan oleh kelamin mereka tapi oleh cara pikir, dan kemampuan mereka sereta oleh apa yang telah dilakukan.

Di...

Diinjak
Diangkat
Diinjak
Diangkat
Dinjak, lau diangkat
Diinjak lagi, diangkat lagi.
Dimana posisiku?

Dinjak
Diangkat
Diinjak lagi
Diangkat lagi.
Oi… tetapkan posisiku!

Sunday, May 14, 2006

Sandal Jepit

Aku sebuah sandal jepit warna merah. Umurku satu tahun lebih sedikit. Pastinya berapa aku tidak tahu. Pertama aku menyentuh kaki pemakaiku, aku senang tidak kepalang. Kakinya meski bau, telah kubantu menghindari kerikil, paku, dan beling yang berserakan di jalan, wah pokoknya aku senang dengan kebaikanku. Bukan magsud untuk menyombongkan diri, aku hanya senang melakukan itu semua. Aku begitu gembira mengikuti tiap langkah pemakaiku. Menyadari diri berguna sangat menyenangkan bukan?
Tak hanya sekali, aku sering pula mengantar teman-teman pemilikku untuk kekamar kecil. Memang sih aku bisa melihat isi yang kencing, tapi itupun kalau yang kencingnya perempuan. Kalau yang kencingnya laki-laki gak terlihat, terhalang tangan. Tapi tenang, aku tidak berselera dengan alat kelamin itu. Hal lain yang sangat kusukai adalah saat menemani orang berwudlu. Senang… rasanya. Serasa dekat dengan Sang Pencipta. Meski sang Maha Bisa itu tidak secara langsung menciptakanku, aku yakin bahwa bahan mentah pembuatku ini berasal dari Dia.
Permasalahan timbul saat iri menyerbu. Pemilikku membeli sandal baru. Ia begitu cerah, bersih, dan tebal. Tidak seperti aku yang sudah tipis ini. Sebelumnya, aku tidak cemburu seperti ini. Sejak aku ada, pemilikku telah membeli beberapa sandal yang mahal dan modis. Ada Si Hitam sandal kulit, ada Si Bustong (abus sapotong) warna coklat, dan laen lagi. Tapi yang ini sandal jepit. Sejenis dengan ku. Memiliki fungsi sama denganku.
Ada apa dengan aku tuan? Bukankah aku masih bisa kau pakai? Kenapa kau beli panggantiku? Memang aku telah tipis, memang kadang aku tidak kuat menyanggamu hingga kerikil sering kali mengganggumu kala berjalan.
Tak lama setelah tuanku membeli sandal jepit biru itu, aku mulai berlubang. Awalnya bagian kiriku yang berlubang. Lubangnya sebesar diameter kelingking. Tapi tak lama jadi sebesar jempol kaki. Tak tanggung, bagian kananku pun ikut berlubang seperti takut ketinggalan mode. Aku resah. Mungkin aku akan dibuang seperti sendal-sendal lainnya. Aku menunggu binasaku.

Sandalku yang sudah cukup lama mendampingi ini terasa tidak nyaman. sandal jepit merah merek bata itu tipis. Penyebab tipisnya pasti karena gesekan karet alias alas sandal dengan yang di bawahnya-bisa aspal, tanah, atau batu krikil.
Ketebalannya yang menipis membuat hilang kenyamanannya. “Aku harus beli sandal baru,” pikirku. Minggu saat Ane, sobatku yang hobi banget shoping ngajak aku ikut, aku pun menyanggupi. Di sebuah toko sandal terkenal made in Indonesia, aku membeli sobat baru. Warnanya biru laut cerah dengan alur abstrak. Melihatnya, aku langsung jatuh hati. Sama kayak aku beli sandal jepit merah lapukku. Ngak mikir panjang, uang dua puluh ribu kukeluarkan
Sampai di kosan, aku tak langsung memakainya. Lebih baik aku memakai sandal tuaku sampai tak bisa lagi dipakai. Toh sandal merah ini masih ingin kupakai. Meski nyeri saat kulit kakiku bersetubuh dengan kerikil. Kurang dari seminggu keadaan sandalku makin parah. Sekarang sandal itu bolong sebelah di bagian tumitnya. Yang bolong sandal kiri. Baru sadal kiri!
Bolongnya sandal itu menyebabkan si tumit terpaksa bersetubuh dengan aspal, tanah dan sering kali krikil tajam yang membuat bibir meringis ngilu. Bolong yang awalnya sebesar pantat pinsil itu sekarang jadi besar… sampai-sampai telor bebek bisa jadi bola kalau bolongan itu jadi ringnya.
Masih lumayan dari pada sandal itu bolong dua-duanya.
Tapi… g lama mikir gitu, sandal itu kompakan bolong. Emang sih yang kanan bolongnya ngak segede kiri, tapi kecepatan bolongnya bisa dikatakan pesat. Padahal dipake jalan se kilo.
Wah… klo dah gini gawatkan? Kakiku makin sering sakit. Sayang rasanya harus membunag sandal ini. dengan penuh duka_hehehe hiperbola bangetkan? Akhirya…. Kuputuskan menyimpan sandal itu di pojok rak sepatu. Lalu kupakai sendal baru biruku.

Sudah dua hari aku tidak mencium kaki tuanku. Aku berada di sudut rak sepatu. Kini, aku memiliki teman baru, teman yang seumur denganku. Yang lama tak terpakai. Aku tak berguna lagi! Aku bukan hiasan, tuan. Maka jangan pajang aku. Ditambah letakku yang tidak strategis dipandang mata. Aku ada di urutan paling belakang!
Sandal biru itu mencibir, terlihat pongah karena ia muda dan cerah, berbeda sekali dengan aku yang kumal dan tak berguna. Kepercayaan diriku menipis. Padahal aku dulu sama pongahnya seperti dia. Aku serasa mati rasa. Ingin rasanya melempar diri ke kobaraban api. Aku akan meleleh disana…
Tuan, buang aku ke tong sampah. Atau buang aku ke kali dekat kosan ini. Atau berikan aku pada pemulung. Atau… setidaknya aku akan berguna. Aku muak dengan ketidakberdayaanku.
Untuk apa semua gelisahku ini? Toh tuanku tak mampu mendengarku, lalu untuk apa aku memelas belas kasih yang tak kan sampai padanya?
Tuanku itu melalui hari tanpa aku di kakinya. Tanpa ku menemani langkahnya. Lambat laun, aku sadar bahwa aku meski berada di rak sepatu paling ujung, dan sekalipun aku berada di deret terdepan rak sepatu ini, aku adalah SAMPAH. Aku tak lagi berguna.
Sekali lagi tuan, kumohon dengan sangat tempatkan aku di tempatku. Buang aku di tong sampah. Kuucapkan kata yang kuanggap doa itu pada Sang Pencipta. Meminta campur tangan Tuhan untuk mengemingkan telinga tuanku.

Entah dari mana pikiran ini datang, tiba-tiba aku ingin membersihkan rak sepatu. Semua sandal dan sepatu kukeluarkan. Lalu kulap rak plastik itu dengan kain pel. Biasa anak kos, kain pel tak sekedar untuk ngepel. Dia bisa untuk melap sepatu, bisa juga dijadikan keset. Setelah rak sepatu ku kinclong, kumasukkan dan kutata sepatu dan sandal-sandal tuaku. Ada satu sandal menarik hatiku. Kuperhatikan lebih lama. Ah… ini sandal merah kesayanganku dulu. Hampir setengah tahun aku tak memakainya, atau mungkin lebih. Keadanyannya sungguh menyedihkan. Menjijikan bahkan. Mengapa aku menyimpannya selama ini? Pekerjaanku beres. Semua sandal dan sepatu telah rapi di rakku yang mengilap.
Setelah semua selesai, kualihkan pandangan pada sandal merah tadi. Kuambil kresek hitam, kumasukkan sandal merah itu. Lalu kusimpan di tong sampah depan kosanku.

Terima kasih tuhan. Kau benar-benar mendengarku. Akhirnya aku terbebas. Meski aku harus menunggu berminggu bahkan berbulan-bulan. Aku tidak terikat denganmu tuan. Aku lepas dari dirimu. Aku terbebas dari dukaku.
Ada bau kecut yang mnyengat. Baunya lebih tajam dari kaki tuanku. Mantan tuan maksudku. Tentu saja bau, aku ada di tong sampah.

Seorang bapak tua mengorek tempat tingalku dua hari ini. Ia lalu memungutku. Memungutku dengan senyum kecilnya. Entah di mana, ia lalu mengguntingku jadi bagian-bagian kecil. Badan bagian kiriku dibagi jadi empat lingkaran kecil. Badanku yang kanan di bolongi. Seperti dapat sulap, aku berubah penampilan. Aku jadi sebuah kereta mini warna merah. Pak tua itu memberikanku pada anak kecil. Kutebak anak itu anaknya.
Hari berlalu… aku bukan lagi sandal merah yang tua. Aku adalah kereta mini merah yang menemani anak laki-laki bermain di daerah pembuangan akhir. Kadang aku menemaninya mengikuti bapaknya memulung. Kadang aku diseret penuh keriangan oleh beberapa temannya. Aku bukan lagi sampah. Aku berguna. Setidaknya sampai ketika bapaknya memberinya mobil-mobilan. Tentu mainan itu lebih menarik. Dibanding aku…
Aku pun dilupakan lagi…
Aku lalu berada di gundukan sampah lagi. Bertemu barang lain yang tak lagi berguna bagi pemiliknya. Lalu aku dengan teman dan saudara-saudaraku bersama menghitung hari. Bersama menunggu dipungut. Menunggu dijadikan barang berguna. Menunggu sulap tangan-tangan terampil. Menunggu diangkat dari gundukan sampah.
Aku belajar, bahwa sesuatu menjadi sampah bagi orang lain. Tapi pasti sesuatu atau seseorang itu mejadi sangat berguna bagi orang lain. Seperti aku. Aku jadi sampah tuanku sebagai sebuah sandal jepit. Tapi aku jadi pelipur lara anak, pemulung tua meski lalu aku dijadikan sampah kembali. Dan kini, aku adalah sebuah gayung daur ulang warna ungu yang cantik.
Kita berguna bagi seseorang. Itu pasti!