artikel
Rokok "Nguras Kantong"
Buat yang seneng ngeroko tapi suka ngeluh ‘ga punya duit, baiknya mikir-mikir lagi deh kalo mau terus ngeroko. Soalnya berdasarkan survei kecil-kecilan atas beberapa perokok, uang jajan sering habis oleh rokok.
Hitung saja jika setiap harinya menghabiskan 4 batang rokok, uang minimal 2400 rupiah melayang sudah. Tentu tidak masalah bagi perokok bermodal tebal dan perokok jenis C yang seringnya minta rokok sana-sini. Untuk anak kost macam mahasiswa, khususnya yang uang bulanannya sekitar 500-600 ribu, uang dua atau tiga ribu tergolong besar. Jika dikalikan satu bulan, biaya untuk rokok Rp 90.000, itu jika meroko 4-5 batang yang harganya 600 perak sebatang. Padahal uang 90 ribu bisa dialihkan untuk beli baju, buku, jalan-jalan, beli TV atau HP (kalo dikumpulin).
Pengeluaran lebih besar buat rokok yang harganya 700 rupiah ke atas. Juga buat peroko yang ‘ga cukup empat atau lima batang sehari. Hitung saja pengeluaran bulanan untuk rokok yang sekaligus memperburuk kondisi kesehatan. Beberapa mahasiswa menghabiskan sekitar Rp 15.000 untuk makan dan rokok selama satu hari, itu jika ia hanya kuliah di kostan. Belum lagi saat mahasiswa itu nongkrong bareng, tentu rokok yang dihisap tak terasa bertambah. Lumayan kalo rokoknya dapet minta, lah kalau malah diminta? Pasti biaya rokok hari itu bertambah juga.
Rokok adalah candu. Rokok sudah diakui olah para peroko pun sesuatu yang mubajir, membakar uang, menyebar penyakit dan gangguan tak hanya pada diri sendiri, juga pada orang lain. Kendala berhenti merokok kata yang demen rokok, pertama adalah rasa asam yang datang kala absen ‘ngerokok. Jadinya mulut gatal gitu... Kendala semacam ini bisa diatasi, misalnya mengganti rokok dengan permen menthol. Tapi yang penting sih niat dan kesadaran penuh akan bahaya rokok. Bahaya untuk kesehatan, keuangan, juga penampilan khususnya gigi dan bibir.
Kendala lain yaitu rasa konsentrasi saat merokok lebih tinggi, juga katanya dengan merokok, peroko lebih produktif (ini dikatakan oleh beberapa mahasiswa yang doyan ‘ngerokok sekaligus doyan diskusi). Wah bisa jadi itu hanya sugesti. Sebab bagaimanapun juga jika merokok sudah menjadi kebiasaan, saat kebiasaan itu dihilangkan/ dihindari beberapa hal akan terpengaruh. Ambil contoh seseorang yang sudah terbiasa makan pedas, saat rasa pedas dikurangi atau bahkan dihilangkan, makanan akan terasa tidak enak dan nafsu makan menurun. Sama halnya dengan rokok.
Mengurangi jatah hisapan rokok pun bisa dimulai dengan meningkatkan kepedulian pada sesama manusia. Tidak bisa dipungkiri, orang lain akan tergangu dengan asap dan bau rokok yang dibakar. Karena itu, sebisanya perokok menghindari tempat umum saat merokok. Dengan menanamkan pikiran bahwa orang sekitar asap rokok lebih rentan terkena dampak negatif rokok, perokok secara langsung maupun tidak telah menyebarkan kerugian bagi orang lain. Karena itu sadarlah untuk tidak membuat orang lain terganggu dan rugi. Padahal bisa saja perokok tetap enjoy merokok di tempat umum, caranya dengan menyiapkan katong plastik atau botol air mineral yang di dalamnya diisi kapas basah. Nah saat mau melepas asap ke udara, lepaslah di dalam botol/ katong saja. Solusi untuk asap ini memang sedikit ‘nyeleneh. Tapi biar orang yang disekitar tidak terganggu, dan sama-sama enak, sah-sah saja kan?
Ada yang bilang kematian tidak disebabkan oleh rokok, namun takdir Yang Maha Kuasa. Bukankah kita sebagai manusia bisa berusaha? Mendekatkan atau menjauhkan diri dari segala sesuatu. Kita pun mungkin bisa memilih cara mati. Misalnya dengan tidak merokok, kita tidak mungkin mati karena asap rokok yang sengaja kita hisap. Lebih bijak juga jika kita melakukan sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. Salah satunya dengan tidak merokok. Sebelum anda berhenti merokok, agar lebih mudah, kurangi intensitas merokok anda. Semoga berhasil....
Buat yang seneng ngeroko tapi suka ngeluh ‘ga punya duit, baiknya mikir-mikir lagi deh kalo mau terus ngeroko. Soalnya berdasarkan survei kecil-kecilan atas beberapa perokok, uang jajan sering habis oleh rokok.
Hitung saja jika setiap harinya menghabiskan 4 batang rokok, uang minimal 2400 rupiah melayang sudah. Tentu tidak masalah bagi perokok bermodal tebal dan perokok jenis C yang seringnya minta rokok sana-sini. Untuk anak kost macam mahasiswa, khususnya yang uang bulanannya sekitar 500-600 ribu, uang dua atau tiga ribu tergolong besar. Jika dikalikan satu bulan, biaya untuk rokok Rp 90.000, itu jika meroko 4-5 batang yang harganya 600 perak sebatang. Padahal uang 90 ribu bisa dialihkan untuk beli baju, buku, jalan-jalan, beli TV atau HP (kalo dikumpulin).
Pengeluaran lebih besar buat rokok yang harganya 700 rupiah ke atas. Juga buat peroko yang ‘ga cukup empat atau lima batang sehari. Hitung saja pengeluaran bulanan untuk rokok yang sekaligus memperburuk kondisi kesehatan. Beberapa mahasiswa menghabiskan sekitar Rp 15.000 untuk makan dan rokok selama satu hari, itu jika ia hanya kuliah di kostan. Belum lagi saat mahasiswa itu nongkrong bareng, tentu rokok yang dihisap tak terasa bertambah. Lumayan kalo rokoknya dapet minta, lah kalau malah diminta? Pasti biaya rokok hari itu bertambah juga.
Rokok adalah candu. Rokok sudah diakui olah para peroko pun sesuatu yang mubajir, membakar uang, menyebar penyakit dan gangguan tak hanya pada diri sendiri, juga pada orang lain. Kendala berhenti merokok kata yang demen rokok, pertama adalah rasa asam yang datang kala absen ‘ngerokok. Jadinya mulut gatal gitu... Kendala semacam ini bisa diatasi, misalnya mengganti rokok dengan permen menthol. Tapi yang penting sih niat dan kesadaran penuh akan bahaya rokok. Bahaya untuk kesehatan, keuangan, juga penampilan khususnya gigi dan bibir.
Kendala lain yaitu rasa konsentrasi saat merokok lebih tinggi, juga katanya dengan merokok, peroko lebih produktif (ini dikatakan oleh beberapa mahasiswa yang doyan ‘ngerokok sekaligus doyan diskusi). Wah bisa jadi itu hanya sugesti. Sebab bagaimanapun juga jika merokok sudah menjadi kebiasaan, saat kebiasaan itu dihilangkan/ dihindari beberapa hal akan terpengaruh. Ambil contoh seseorang yang sudah terbiasa makan pedas, saat rasa pedas dikurangi atau bahkan dihilangkan, makanan akan terasa tidak enak dan nafsu makan menurun. Sama halnya dengan rokok.
Mengurangi jatah hisapan rokok pun bisa dimulai dengan meningkatkan kepedulian pada sesama manusia. Tidak bisa dipungkiri, orang lain akan tergangu dengan asap dan bau rokok yang dibakar. Karena itu, sebisanya perokok menghindari tempat umum saat merokok. Dengan menanamkan pikiran bahwa orang sekitar asap rokok lebih rentan terkena dampak negatif rokok, perokok secara langsung maupun tidak telah menyebarkan kerugian bagi orang lain. Karena itu sadarlah untuk tidak membuat orang lain terganggu dan rugi. Padahal bisa saja perokok tetap enjoy merokok di tempat umum, caranya dengan menyiapkan katong plastik atau botol air mineral yang di dalamnya diisi kapas basah. Nah saat mau melepas asap ke udara, lepaslah di dalam botol/ katong saja. Solusi untuk asap ini memang sedikit ‘nyeleneh. Tapi biar orang yang disekitar tidak terganggu, dan sama-sama enak, sah-sah saja kan?
Ada yang bilang kematian tidak disebabkan oleh rokok, namun takdir Yang Maha Kuasa. Bukankah kita sebagai manusia bisa berusaha? Mendekatkan atau menjauhkan diri dari segala sesuatu. Kita pun mungkin bisa memilih cara mati. Misalnya dengan tidak merokok, kita tidak mungkin mati karena asap rokok yang sengaja kita hisap. Lebih bijak juga jika kita melakukan sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. Salah satunya dengan tidak merokok. Sebelum anda berhenti merokok, agar lebih mudah, kurangi intensitas merokok anda. Semoga berhasil....
